Sehari di unpam
Ingat pertama kali datang ke universitas pamulang?
Hal pertama yang menarik, tentu saja gedungnya yang tinggi bahkan sudah terlihat dari beberapa meter jauhnya, saat kita kira sudah dekat ternyata masih harus melewati beberapa persimpangan.
Melihat gedung unpam yang sekarang berbeda sekali dengan unpam yang ku lihat beberapa tahun lalu ketika masih menghitung angka 1x1. Kata "wih" adalah kata pertama kali aku datang memasuki unpam, rasanya seperti melihat teman lama yang sudah glow up dan sukses.
Sama dengan tingginya gedung dari kejauhan, untuk memarkirkan motor saja kita harus menanjak, lagi, lagi, lagi, dan lagi. Kunjungan ku ke unpam kali ini diajak oleh bibiku untuk melihat lihat unpam sambil menunggu beliau mengajar.
Tetapi sampai di lantai 5, aku malah di telantarkan seperti anak hilang. Hanya dibekali kata "tunggu, jam setengah 10 keluar" tapi kenyataannya sampai jam 11 belum ada tanda tanda akan selesai. Aku duduk di bangku yang ada di lorong, hampir semua dinding di bangunan ini berwarna putih, almet warna biru jadi terasa sangat mencolok pada saat itu yang kebetulan sedang diadakan UAS.
Penasaran, aku pun memilih untuk beranikan diri untuk pergi melihat lihat sendiri. Aku berjalan lurus kedepan menuju lorong putih yang rasanya tidak ada akhirnya (sangking luasnya), karena ragu dan takut tersesat, akhirnya aku memutuskan untuk berjalan ke arah lift dan turun ke lantai satu. Terlihat orang-orang memiliki tujuan kecuali aku. Yang terlintas dipikiran hanya pergi ke kantin belakang, membeli satu botol teh pucuk, yang kemudian menyesal karena memunculkan rasa yang tidak tertahankan.
Selain memiliki ruang kelas yang banyak, lantai yang banyak di unpam juga memiliki banyak sekali kantin dengan menu yang bervariasi, di lantai dasar memiliki loby yang luas, eskalator, bahkan ada salon. (Saat menulis ini fasilitas sudah ditambahkan seperti ada mini market dan tomoro coffee).
Dari semua fasilitas fasilitas yang dimiliki unpam, hanya satu yang paling ku butuhkan ialah kamar mandi. Sudah dicari tapi tak kunjung di temukan. Tapi, ada kemudahan ada kesuliatan, ada kesulitan ada kemudahan. Datang bak superhero, teman SMK ku namanya Piu. Tidak sengaja kita berpapasan, melihat Piu memakai almet ku duga ia sudah menjadi mahasiswa universitas pamulang jurusan informatika entah teknik atau sistem. Piu menunjukanku arah toilet wanita, terimakasih Piu, aku selamat.
Setelah semua masalahku selesai, bibiku pun telah selesai mengajar. Beliau memberikan ku selebar formulir dan sekarang aku disini menulis blog ini.
Komentar
Posting Komentar