Misteri (cerpen)
Misteri. Sebuah kotak datang tadi pagi didepan pintu rumahku, misteri. Aku menyebutnya sebuah misteri. Tidak ada nama penerima dalam kotak itu, hanya sebuah alamat rumahku dan namaku. Benar-benar sebuah misteri.
Mama mengatakan untuk tidak membuka kotak itu jika aku takut. Aku tidak membukanya bukan karena takut, tentu saja aku akan buka kotak itu tetapi setelah misteri ini hilang, setelah aku mendapatkan jawaban atas misteri ini.
Aku pergi ke sekolah pagi hari, kemudian siangnya aku bermain dengan berry, teman ku. Setelah lelah bermain polisi dan maling aku pulang kerumah karena haus. Tetapi sebelum aku berhasil membuka pintu rumahku. Aku berhenti melihat sesuatu diatas keset ku tepat di depan pintu yang hendak kubuka. Sebuah kotak, yang kini ku sebut dengan misteri. Lalu sampailah aku dikamar, berfikir dari mana kotak ini berasal. Mama tidak mengatakan apa-apa saat aku bertanya asal kotak ini. Aku berfikir ini dari papa tapi tentu saja bukan, papa bukan orang yang suka dengan teka-teki. Mama terlalu sibuk untuk sebuah teka-teki dan kotak.
Temanku berry suka teka-teki, mungkin kotak ini berasal darinya. Tapi bukan juga berry, ia adalah anak yang jujur, jika ia ingin memberiku sesuatu ia akan katakan. Ini bukanlah teka-teki yang berry sukai.
Mama datang ke kamarku, memberiku segelas puding rasa coklat. Mama tau jika aku sedang berfikir aku membutuhkan coklat.
“Kenapa kamu tidak langsung buka saja, nak?”
“Ini kotak misteri mama” kataku, sambil memakan nikmatnya puding cokelat buatan mama.
“Setiap kotak penuh misteri, kotak coklat juga penuh misteri” ucap mama lagi lembut.
Tapi mama tidak akan mengerti atas rasa penuh penasaran ini, jika kubuka kotak misteri ini maka misteri menjadi tidak penting lagi, tapi bagaimana aku bisa katakan pada mama, jadi aku hanya tersenyum.
“Mama benar” aku tersenyum.
“Tapi mama, kotak ini tidak memiliki asal? Ini tidak bisa dibandingkan dengan kotak-kotak lain. Ini adalah misteri di dalam misteri dan aku akan membongkar misteri ini”
Mama tertawa mendengar perkataanku. Padahal aku serius dalam mengungkapkannya. Lalu mama pergi meninggalkan ku dengan ribuan pertanyaan di kepala.
Jika kotak ini adalah kotak coklat, tidaklah mungkin, kotak ini terlalu besar untuk di isi rasa manisnya coklat. Jika ku bayangkan, kotak ini cukup untuk sebuah boneka beruang kecil. Apa isi kotak misteri ini adalah sebuah beruang?
Tidak. Beruang tidak hidup dalam sebuah kotak. Apa yang hidup di dalam sebuah kotak berukuran papan jalar?
Aku tidak menemukan jawabannya. Aku mengangkat kotak misteri itu dan menggoyang-goyangkannya. Ringan, kotak misteri itu sangat ringan dan rumit juga. Jika ada mahluk dalam kotak misteri itu maka akan ada suara yang terdengar, kotaknya juga tidak berat berati bukan sesuatu yang berbahaya, ringan sangat ringan seperti tidak ada isinya. Apa yang sangat ringan sampai tidak terasa sesuatu dalam sebuah kotak?
Kertas. Aku berfikir tentang bagaimana jika isi kotak ini adalah sebuah surat. Tetapi dari siapa? Siapa yang akan mengirimi ku surat? Siapa yang cukup jauh dariku sampai harus mengirimi sebuah surat? Kakek? Tidak, kakek terlalu tua untuk menulis lagi. Paman? Tidak ia bukan orang romantis yang menulis dengan surat, paman akan memilih mengabari lewat pesan di handphone. Siapa yang cukup romantis untuk mengirimi ku surat?
Baiklah, ini tidak akan selesai sampai aku tidak menemukan sesuatu yang baru. Aku kembali ke tempat TKP, tempat dimana misteri ini berasal. Tetapi misteri lain justru datang, aku menemukan sebuah surat di depan pintu rumah ku tepat di tempat kotak misteri itu tadi datang.
Aku dengan terburu-buru kembali ke kamar. Melihat surat tersebut, misteri aku menyebutnya misteri. Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah alamat rumah ku dan namaku. Lagi-lagi misteri kataku.
Kali ini aku memilih untuk membuka misteri ini, aku merobek pinggiran surat tersebut dan membaca surat itu. Aku tersenyum puas, benar-benar sebuah misteri. Benar kata mama “Setiap kotak adalah misteri, kotak coklat juga penuh dengan misteri” dan hidup adalah misteri itu sendiri.
Komentar
Posting Komentar